Sejarah Desa

Kantor Balaidesa Surodadi

Sejarah Desa Surodadi Kecamatan Kedung Kabupaten Jepara.

Sejarah merupakan serentetan peristiwa pada zaman lampau, zaman sekarag dan masa yang akan datang, yang benar-benar terjadi dan dapat dibuktikan kebenarannya baik berupa benda-benda, prasati, babad dan bukti lainnya yang mendukung. Demikian juga dengan keberadaan berdirinya Desa Surodadi sangat sulit dibuktikan pengungkapannya karena keterbatasan bukti pendukung.

Desa Surodadi adalah desa di kecamatan Kedung, Jepara, Jawa Tengah, Indonesia. Disebelah utara berbatasan langsung dengan Desa Jondang dan Desa Bugel, sebelah selatan berbatasan dengan Desa Kalianyar dan Karangaji. Pada sebelah Timur, berbatasan dengan Desa Sowan Kidul dan Tedunan, sedangkan di sebelah Barat berbatasan dengan Desa Panggung.

Desa Surodadi didirikan oleh Mbah Suronoto, maka nama Surodadi diambil dari pendirinya yang bernama mbah Suronoto, berdasarkan cerita dari mulut ke mulut desa surodadi berasal dari kata Suro dan Dadi yang berarti suro (berani) dan dadi (jadi). Jika digabungkan Surodadi berani, berani menjadi sebuah Desa yang besar dan kokoh.

Cikal bakal surodadi berasal dari tokoh agama yaitu mbah Suro. Mbah suro datang untuk menyelamatkan masyarakat yang kurang paham tentang pemahaman agama. Ketika Desa Surodadi sudah di didirikan oleh mbah Surunoto, kemudian Mbah Suronoto pindah ke kota Jepara, dan membuat dukuh disana yang namanya juga sama yaitu Surodadi yang terletak di Area kota Jepara. Kemudian beliau mempercayakan Desa kepada Mbah Nameng. Dimana Mbah Nameng dipercayai untuk menamengi Desa supaya aman.

Di Desa Surodadi sendiri terdapat tradisi yang biasa dilakukan oleh masyarakat setempat yaitu sodaqoh dengan membawa tempat sodaqoh yang diisi dengan batu atau dengan uang receh dan berkeliling ke rumah warga. Sodaqoh itu dilakukan sebelum Bulan Puasa dan sebelum memperingati Maulid Nabi.

Di tengah Desa Surodadi ada sebuah masjid, yaitu Masjid Jami’ Baiturrahman yang pada awalnya dibangun di dukuh Grabah yang dibuat oleh masyarakat dan para tokoh agama. Tetapi pada saat itu, masjid tersebut digunakan anak-anak muda untuk berbuat maksiat, seperti bermain kartu, dan bermain judi. Konon cerita, tiba-tiba pucak masjid atau mustaka tersebut pindah dari Dukuh Grabah ke tempat masjid yang sekarang. Dan sampai sekarang puncak itu masih tersimpan di Masjid Baiturrahman. Mitosnya, di puncak masjid tersebut ada burung sruiti atau perkutut yang ketika buang kotoran, kotoran itu berubah jadi emas.

serambi masjid

Di depan masjid Surodadi juga terdapat serambi, dimana serambi ada berawal dari sebuah tanah kosong yang digali untuk membangun masjid tersebut. Serambi itu terdapat di tengah Desa Surodadi yang sampai sekarang warnanya tidak berubah, meskipun kemarau dan musim hujan masih tetap saja berwarna hijau. Menurut Bapak Hambali yang merupakan salah satu warga Surodadi, serambi itu terdapat sebuah kayu besar dan panjangnya sepanjang serambi, yang mana kayu tersebut dibuat babakan (kayu yang dibuat jalan untuk turun ke serambi). Dan pada saat itu ada mitos apabila kayu tersebut di belah maka akan mengeluarkan darah.

Disamping itu, serambi tersebut juga ditempati danyang yang menurut cerita dari mulut ke mulut danyang tersebut sangat cantik, dan apabila ada perempuan yang menikah dengan penduduk asli Surodadi, secantik apapun perempuan itu akan terlihat biasa saja di Desa Surodadi, karena menurut kepercayaan warga sekitar, aura kecantikan perempuan itu terkalahkan oleh aura kecantikan danyang Surodadi, karena danyang tersebut memiliki sayap, yang apabila dijatuhkan ke perempuan pendatang baru Desa Surodadi dapat menghilangkan aura kecantikannya.

Menurut cerita lain, jika ada pencalonan Kepala Desa di desa Surodadi, sosok danyang tersebut akan mendatangi rumah kandidat yang akan terpilih untuk menjadi kepala desa yang berwujud seperti manusia dengan memakai baju serba hijau. Seperti Mbah Sulaiman yang pada saat itu menjadi petinggi kedua, sebelumnya rumah Mbah Sulaiman didatangi oleh danyang tetapi pada saat itu Mbah Sulaiman tidak berada di rumah karena pada saat itu Mbah Sulaiman berada di Keling sebagai guru ngaji, tetapi yang melihat danyang itu Mbah Abdul Fatah yang waktu itu melewati rumah Mbah Sulaiman setelah sholat subuh. Setelah kejadian itu, Mbah Abdul Fatah berbicara dengan Mbah Asro selaku mertua dari Mbah Sulaiman untuk menemui Mbah Sulaiman agar segera pulang, dan mencalonkan diri sebagai kepala desa. Dan setiap kepala desa yang terpilih pasti rumahnya tidak jauh dari serambi.

Adapun petinggi pertama Desa Surodadi yaitu Mbah Abdul Wahab, kedua dipimpin oleh Mbah Sulaiman, Ketiga yaitu Mbah Tusairi, Keempat yaitu Mbah H. Nur Salim,  Kelima Yaitu Mbah Sukardi, Keenam yaitu Zainun Ihsan, Ketujuh yaitu Bapak H. Syafruddin, dan pada saat ini di bawah pimpinan Bapak Zainul Ihsan.